Rabu, 03 Februari 2010

Sahabat kecil ku yang tegar.

Rabu, 3 februari 10.

Hari ini aku mendapat kan pelajaran lebih dari kehidupan.

Sore menjelang, sepulang dari sekolah aku sempatkan untuk beristirahat sejenak. Ku gantikan seragam ku dengan kaos oblong kesuka'an ku.

Sekitar pukul 16.20, ku gerak kan tubuh ku untuk bangkit dari peranduan.

Kulangkah kan kaki ku menuju rumah seorang sahabat lama.

Kami sepakat, kalau dia akan menemaniku untuk observasi dalam mengerjakan tugas geografi.

Kami berjalan menggunakan sepeda motor ku ke suatu tempat.

Kami tiba di suatu lokasi, dimana daerah itu adalah sebuah sungai yang telah hancur berantakan karna ulah [TI] Tambang timah masyarakat.

Disana aku mencatat segala sesuatu yang kami cari. Foto-foto sebagai bukti pun langsung kami ambil untuk diabadikan.

Kami menyadari kalau di sekitaran kami itu ada sekelompok anak kecil yang masih SD sedang asyik bermain air sambil berenang.

Kami hanya tersenyum menyaksikan keasyikan anak-anak itu.

Tapi, suatu pandangan aneh muncul dimataku.

Salah seorang anak dari mereka memiliki bentuk fisik yang tak sempurna lagi.
Anak itu bertubuh kurus, berkulit hitam,
aku kaget bukan kepalang dibuat nya.

Anak itu sudah tidak memiliki kaki yang sempurna.
Kaki sebelah kiri tepat mulai dari lutut nya telah hilang tah kemana.

Yaa allah.
Pena yang aku pegang pun sempat terjatuh.

Aku tidak dapat merasakan bagaimana kalau itu terjadi padaku.

Dia hanya berdiri dengan 1 kaki.
Dia berjalan hanya dengan loncat-loncat.

Tapi, tak ada sedikitpun rasa malu, rasa kecewa yang tampak di raut wajah nya.
Dya tersenyum lebar, tertawa kegirangan bersama teman-teman nya itu.

Burrrrr...
Suara air membludak sa'at dia terjun kedalam nya.
Aku sempat takut.
Tapi, tak ku sangka. Walau hanya dengan 1 kaki yang tak sempurna, dia dapat berenang dengan ciamik.

Maha suci allah yang telah memberikan kelebihan masing-masing terhadap manusia.

Anak yang cacat begitu saja masih bisa tertawa, bermain bersama, masih bisa bersyukur.
Tapi, kita yang normal secara fisik, mampu secara materi masih ajaa sering tidak bersyukur atas apa yang ada.

Sungguh terharu diriku pada seorang anak cacat itu.

Catatan ini ku persembahkan buat diri mu sahabat kecil ku.
Ku yakin, kalau dirimu mampu untuk melangkah maju.

Semangat sobat.
Tuhan pasti telah merencanakan yang terbaik buat mu.

Byee..


0 komentar:

 
;